Ia menekankan bahwa perubahan kurikulum saja tidak cukup untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Selama kebutuhan dasar anak, seperti gizi, belum terpenuhi, maka proses pembelajaran tidak akan berjalan optimal. Anak-anak yang kurang gizi akan kesulitan menyerap pelajaran, sehingga berpengaruh langsung terhadap prestasi dan perkembangan mereka di masa depan.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir sebagai salah satu solusi strategis untuk menjawab persoalan tersebut. Pemerintah berharap program ini mampu memastikan setiap anak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup dan seimbang. Dengan kondisi tubuh yang sehat dan energi yang cukup, anak-anak diharapkan dapat mengikuti kegiatan belajar dengan lebih fokus dan maksimal.
Lebih jauh, Zulhas menjelaskan bahwa program MBG bukan hanya sekadar bantuan sosial, melainkan bagian dari investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia. Ia meyakini bahwa generasi yang sehat dan cerdas akan menjadi fondasi utama dalam mendorong kemajuan bangsa. Oleh karena itu, keberhasilan program ini sangat menentukan arah masa depan Indonesia.
Tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan, program MBG juga dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Pemerintah berupaya melibatkan berbagai pihak dalam pelaksanaannya, mulai dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), hingga koperasi desa. Dengan demikian, program ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang saling menguntungkan.
Deputi Bidang Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan, Nani Hendiarti, menyampaikan bahwa pihaknya tengah menyusun regulasi terkait tata kelola rantai pasok pangan. Langkah ini penting untuk memastikan ketersediaan bahan pangan yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan bagi pelaksanaan program MBG.
Menurutnya, salah satu fokus utama adalah memastikan bahwa pasokan bahan pangan berasal dari sumber lokal. Dengan cara ini, program MBG tidak hanya menjamin kebutuhan gizi anak-anak, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah. Petani, peternak, dan pelaku usaha lokal akan mendapatkan peluang pasar yang lebih luas dan stabil.
Sementara itu, Ketua Umum APPMBGI, Abdul Rivai Ras, menegaskan komitmen organisasinya dalam mendukung keberlangsungan program ini. Ia menyebut bahwa pihaknya telah mengukuhkan pengurus daerah di berbagai wilayah, dengan target mencapai 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Abdul Rivai Ras berharap program MBG tidak hanya berjalan dalam jangka pendek, tetapi dapat menjadi kebijakan berkelanjutan yang didukung oleh regulasi yang kuat. Bahkan, ia mengusulkan agar program ini memiliki payung hukum berupa undang-undang, sehingga pelaksanaannya lebih terjamin dan konsisten dari waktu ke waktu.
Selain itu, Zulhas juga mengaitkan program MBG dengan target besar pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan. Ia menilai bahwa penguatan sektor pangan, terutama di tingkat desa, menjadi kunci dalam menjaga ketahanan nasional. Dengan memberdayakan koperasi desa dan pelaku usaha lokal, pemerintah berharap desa dapat berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Program MBG, jika dijalankan dengan baik, diyakini mampu memberikan efek berantai yang luas. Di satu sisi, anak-anak mendapatkan asupan gizi yang lebih baik, sehingga mendukung perkembangan fisik dan mental mereka. Di sisi lain, sektor ekonomi lokal juga ikut terdorong melalui peningkatan permintaan terhadap bahan pangan.
Namun, tantangan dalam pelaksanaannya tidak bisa diabaikan. Pengawasan terhadap kualitas makanan, distribusi yang merata, serta transparansi dalam pengelolaan anggaran menjadi hal yang harus diperhatikan secara serius. Tanpa tata kelola yang baik, program sebesar ini berisiko tidak mencapai tujuan yang diharapkan.
Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan program MBG. Semua pihak diharapkan dapat berperan aktif dalam memastikan bahwa program ini benar-benar memberikan manfaat bagi generasi muda Indonesia.
Pada akhirnya, pesan yang disampaikan Zulhas cukup jelas: gizi adalah fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Tanpa gizi yang baik, upaya peningkatan pendidikan akan berjalan timpang. Sebaliknya, dengan dukungan nutrisi yang cukup, anak-anak Indonesia memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan mampu bersaing di kancah internasional.
Program Makan Bergizi Gratis pun diharapkan menjadi langkah nyata dalam mewujudkan cita-cita tersebut, sekaligus menjadi bukti komitmen pemerintah dalam membangun masa depan bangsa yang lebih baik.
(*06/raisya)
