Iran Hantam Balik! IRGC Klaim 200 Tentara AS Jadi Korban, Ancaman Rudal Lebih Dahsyat Mengintai

Palukeadilannews.com

TEHERAN – Situasi Timur Tengah kembali bergolak. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim serangan balasan rudal Iran ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan telah menewaskan dan melukai sedikitnya 200 personel militer AS.


Klaim tersebut disampaikan melalui kantor berita Tasnim, Sabtu, setelah sebelumnya Israel meluncurkan operasi militer besar-besaran yang disebut sebagai “serangan pencegahan” terhadap target militer dan nuklir Iran. Operasi itu disebut mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat.


Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengonfirmasi dukungan Washington terhadap langkah Israel. Ia menyebut kegagalan diplomasi terkait program nuklir Iran sebagai pemicu utama pecahnya aksi militer tersebut.


“Akibat serangan rudal terhadap pangkalan-pangkalan Amerika, setidaknya 200 personel militer AS tewas dan terluka,” demikian pernyataan IRGC yang dikutip media Iran.


Rudal “Disimpan dalam Air Garam” Siap Diluncurkan


Seorang pejabat IRGC, Jabbari, memperingatkan bahwa gelombang serangan baru akan segera menyusul. Ia menyebut Iran masih menyimpan persenjataan yang lebih dahsyat.


“Apa yang belum kami tunjukkan sampai sekarang, yang kami ‘simpan dalam air garam’, akan kami ungkapkan dalam beberapa hari mendatang,” tegasnya, mengisyaratkan kemungkinan penggunaan rudal dengan daya hancur lebih besar.


Pangkalan Strategis AS Jadi Target Serangan balasan Iran disebut menyasar berbagai fasilitas militer AS di Timur Tengah, termasuk:


Pusat dukungan Armada Kelima di Bahrain


Pangkalan di wilayah Kurdistan, Irak


Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar


Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait


Pangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab


Pangkalan Udara Muwaffaq Al Salti di Yordania


Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi


Selain itu, media Israel melaporkan sekitar 35 rudal juga ditembakkan ke arah wilayahnya. Satu orang dilaporkan mengalami luka akibat serangan tersebut.



Ancaman Perang Terbuka Eskalasi ini menjadi babak baru konflik Israel–Iran yang dalam setahun terakhir terus memanas. Pada Juni 2025, bentrokan selama 12 hari antara kedua pihak telah menewaskan sejumlah komandan militer senior dan ilmuwan nuklir Iran.


Kini, dengan klaim ratusan korban di pihak AS dan ancaman peluncuran senjata yang lebih mematikan, kawasan Timur Tengah berada di ambang eskalasi yang lebih luas.


Dunia internasional pun menyoroti perkembangan ini dengan cemas, khawatir konflik regional dapat berubah menjadi konfrontasi besar yang melibatkan lebih banyak negara.