Merawat Warisan Rasa, TP PKK Bengkalis Hidupkan Kembali Kue Tradisional Melayu Tempo Doeloe

Palukeadilannews.com


BENGKALIS – Di tengah derasnya perkembangan kuliner modern, Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Bengkalis menghadirkan sebuah cara sederhana namun sarat makna untuk menjaga warisan budaya. Melalui Lomba Kue Tradisional Melayu Tempo Doeloe, aneka cita rasa khas Melayu kembali dihidupkan dan diperkenalkan kepada masyarakat.

Kegiatan yang digelar dalam rangka memeriahkan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54 dan Hari Jadi ke-514 Bengkalis itu berlangsung di Gedung Daerah Datuk Laksamana Bengkalis, Kamis (6/8/2026).

Sebanyak delapan peserta dari perangkat daerah, TP PKK kecamatan, TP PKK desa hingga instansi vertikal ambil bagian dalam kegiatan yang tidak hanya mengedepankan kreativitas, tetapi juga mengangkat semangat pelestarian budaya lokal.

Lomba tersebut menjadi lebih dari sekadar kompetisi memasak. Di balik setiap sajian kue tradisional, tersimpan cerita tentang kebiasaan masyarakat Melayu, resep yang diwariskan turun-temurun, serta identitas budaya yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Bengkalis.

Mewakili Ketua TP PKK Kabupaten Bengkalis Siti Aisyah, Wakil Ketua IV TP PKK Kabupaten Bengkalis Yuhelmi mengatakan, pelaksanaan lomba merupakan salah satu bentuk komitmen untuk menjaga agar kuliner tradisional Melayu tidak hilang ditelan zaman.

“Lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan kembali kekayaan kuliner tradisional kepada masyarakat, mempromosikan khasanah kuliner Melayu, sekaligus mendorong tumbuh dan berkembangnya usaha mikro, kecil, dan menengah berbasis kearifan lokal,” ujarnya.

Menurut Yuhelmi, kuliner tradisional memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Jika dikemas secara kreatif tanpa menghilangkan keasliannya, makanan khas daerah tidak hanya menjadi sajian keluarga, tetapi juga dapat berkembang menjadi produk bernilai ekonomi.

Semangat tersebut sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mendorong pemberdayaan masyarakat melalui potensi lokal. Kuliner khas Melayu dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkuat UMKM sekaligus mendukung pengembangan sektor pariwisata di Bengkalis.

Apresiasi terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan Bupati Bengkalis yang diwakili Staf Ahli Bupati Bidang Hukum, Politik dan Pemerintahan, Andris Wasono.

Menurut Andris, pelestarian kuliner tradisional merupakan bagian penting dalam menjaga identitas budaya Melayu. Bahkan, pengembangan kuliner khas daerah dapat menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi dan silaturahmi semata, tetapi juga menjadi wadah untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap warisan kuliner Melayu, memperkuat peran perempuan dalam pelestarian budaya, serta mendorong lahirnya kreativitas dan inovasi yang mampu meningkatkan nilai tambah produk kuliner khas Bengkalis,” katanya.

Andris menegaskan, kuliner tradisional tidak semestinya hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu. Lebih dari itu, kuliner merupakan bagian dari jati diri masyarakat yang harus terus dirawat dan dikenalkan kepada generasi muda.

“Warisan rasa” itulah yang kemudian ditampilkan para peserta lomba. Seluruh peserta diwajibkan mengenakan busana Melayu sehingga suasana kegiatan semakin kental dengan nuansa budaya daerah.

Tak hanya busana, sajian yang dihadirkan pun merupakan kue-kue tradisional Melayu yang sarat nilai sejarah. Beberapa di antaranya kue antosukmo, bolu kemojo, kue hasidah, kue sembayo, kue srikaya bertulang dan kue otak naga.

Setiap sajian tidak hanya dinilai dari tampilan. Dewan juri menggunakan empat aspek penilaian, yakni keamanan pangan dan pemahaman terhadap kue tradisional, cita rasa, penyajian atau plating, serta nilai ekonomis.

Dari hasil penilaian tersebut, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kabupaten Bengkalis berhasil menjadi Juara I. Juara II diraih Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis, sedangkan Juara III diraih Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Bengkalis.

Untuk kategori juara harapan, TP PKK Kecamatan Bantan meraih Harapan I, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bengkalis meraih Harapan II, sedangkan Harapan III diraih TP PKK Desa Ketam Putih.

Prestasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kue tradisional Melayu masih memiliki daya tarik dan peluang untuk dikembangkan. Dengan kreativitas dalam penyajian, pengemasan dan pemasaran, kuliner warisan leluhur dapat bertransformasi menjadi produk UMKM yang memiliki nilai tambah.

Bagi Bengkalis, kekayaan kuliner bukan hanya tentang rasa, melainkan juga tentang identitas. Ada cerita, budaya dan kearifan lokal yang melekat dalam setiap hidangan.

Karena itu, Lomba Kue Tradisional Melayu Tempo Doeloe menjadi momentum penting untuk mengingatkan kembali bahwa menjaga budaya tidak selalu harus melalui langkah besar. Melestarikan resep keluarga, mengenalkan makanan tradisional kepada anak-anak dan mengembangkannya menjadi produk usaha merupakan bentuk nyata menjaga warisan daerah.

TP PKK Kabupaten Bengkalis berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sehingga kuliner Melayu tidak hanya lestari sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu menjadi produk unggulan daerah yang memperkuat identitas Bengkalis sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sebab, ketika sebuah resep lama kembali disajikan, sejatinya bukan hanya rasa yang dihidupkan kembali, tetapi juga cerita dan jati diri sebuah daerah yang diwariskan kepada generasi berikutnya.