Pekanbaru – Upaya pembinaan terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIB Rumbai terus menunjukkan perkembangan positif.
Tidak hanya berfokus pada pembinaan mental dan kepribadian, pihak lapas juga aktif mengembangkan program pembinaan kemandirian melalui berbagai kegiatan produktif. Salah satu kegiatan yang kini tengah digalakkan adalah pembuatan pot bunga dan pengembangan tanaman hias.
Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi pembinaan yang bertujuan membekali WBP dengan keterampilan praktis yang dapat digunakan sebagai modal hidup setelah mereka kembali ke masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, para WBP dilibatkan secara langsung dalam seluruh proses pembuatan pot, mulai dari tahap awal hingga tahap akhir.
Para peserta kegiatan diajarkan teknik dasar seperti pencampuran bahan, pembentukan pot, hingga proses finishing agar menghasilkan produk yang rapi dan menarik.
Tidak hanya itu, mereka juga diberikan pemahaman tentang nilai estetika dan tren tanaman hias yang saat ini cukup diminati oleh masyarakat. Dengan demikian, hasil karya yang dihasilkan tidak hanya memiliki fungsi, tetapi juga memiliki nilai jual.
Petugas pembinaan di Lapas Narkotika Rumbai menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar untuk mengisi waktu luang, tetapi lebih dari itu sebagai sarana pembentukan karakter dan peningkatan keterampilan.
WBP didorong untuk bekerja secara teliti, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaan mereka. Hal ini dinilai penting sebagai bekal mental ketika mereka kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Selain memberikan manfaat secara individu, kegiatan ini juga berdampak positif terhadap lingkungan lapas. Pot bunga dan tanaman hias yang dihasilkan dimanfaatkan untuk memperindah area dalam lapas, sehingga menciptakan suasana yang lebih asri dan nyaman. Lingkungan yang tertata dengan baik diharapkan mampu memberikan efek psikologis positif bagi para WBP dalam menjalani masa pembinaan.
Tidak hanya itu, program ini juga membuka peluang ekonomi yang cukup menjanjikan. Hasil karya WBP berpotensi dipasarkan kepada masyarakat umum, baik secara langsung maupun melalui pameran atau kerja sama dengan pihak luar.
Dengan adanya peluang tersebut, WBP tidak hanya belajar membuat produk, tetapi juga memahami dasar-dasar kewirausahaan, seperti menentukan harga, menjaga kualitas, dan memenuhi kebutuhan pasar.
Para WBP yang mengikuti kegiatan ini mengaku merasa terbantu dengan adanya pelatihan tersebut. Mereka tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga merasakan perubahan dalam pola pikir. Dari yang sebelumnya tidak memiliki keahlian khusus, kini mereka mulai percaya diri untuk berkarya dan memiliki harapan baru untuk masa depan.
Salah seorang WBP mengungkapkan bahwa kegiatan ini memberinya pengalaman berharga. Ia merasa lebih produktif dan memiliki kegiatan yang bermanfaat selama menjalani masa pembinaan. Selain itu, ia juga berharap keterampilan yang diperolehnya dapat digunakan untuk membuka usaha kecil setelah bebas nanti.
Pihak lapas sendiri berkomitmen untuk terus mengembangkan program pembinaan serupa agar semakin banyak WBP yang mendapatkan manfaat. Berbagai inovasi terus dilakukan, baik dari segi jenis kegiatan maupun metode pembinaan, agar program yang dijalankan tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Ke depan, Lapas Narkotika Rumbai berencana memperluas jenis keterampilan yang diajarkan, termasuk memperkuat kerja sama dengan instansi terkait maupun pihak swasta. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hasil karya WBP sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas.
Pembinaan kemandirian seperti ini menjadi salah satu kunci penting dalam proses reintegrasi sosial WBP. Dengan memiliki keterampilan yang memadai, mereka diharapkan dapat kembali ke masyarakat dengan lebih siap dan tidak lagi terjerumus ke dalam perilaku yang melanggar hukum.
Selain itu, program ini juga menjadi bentuk nyata bahwa lapas tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjalani hukuman, tetapi juga sebagai lembaga pembinaan yang berperan dalam membentuk individu yang lebih baik. Melalui kegiatan produktif seperti pembuatan pot bunga, WBP diberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan membangun masa depan yang lebih positif.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan stigma negatif terhadap WBP dapat perlahan berubah. Masyarakat diharapkan dapat melihat bahwa WBP juga memiliki potensi dan kemampuan untuk berkembang, selama diberikan kesempatan dan pembinaan yang tepat.
Secara keseluruhan, program pembuatan pot bunga di Lapas Narkotika Rumbai menjadi contoh nyata bagaimana pembinaan kemandirian dapat memberikan dampak positif, baik bagi WBP maupun lingkungan sekitarnya.
Melalui kreativitas dan keterampilan yang terus diasah, para WBP diharapkan mampu menjadi pribadi yang mandiri, produktif, dan siap berkontribusi kembali di tengah masyarakat.
(*06/raisya)



