Bangun Kemandirian dan Disiplin, Lapas Narkotika Rumbai Perkuat Pembinaan Warga Binaan

Palukeadilannews.com

Pekanbaru – Upaya memperkuat kualitas pembinaan terus dilakukan oleh Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIB Rumbai melalui berbagai program yang berorientasi pada peningkatan kemandirian Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). 


Salah satu langkah konkret yang dilaksanakan adalah pemberian arahan langsung oleh Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik (Kasi Binadik) bersama Kepala Subseksi Kegiatan Kerja (Giatja) dan jajaran, Rabu (6/5/2026).


Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam proses pembinaan yang tidak hanya berfokus pada aspek keterampilan, tetapi juga pada pembentukan sikap dan karakter WBP. Dalam arahannya, Kasi Binadik menegaskan bahwa masa pidana yang dijalani oleh WBP harus dimanfaatkan secara maksimal sebagai momentum untuk memperbaiki diri serta meningkatkan kemampuan yang bermanfaat bagi kehidupan setelah bebas nanti.


Menurutnya, pembinaan kemandirian memiliki peran strategis dalam membekali WBP dengan keterampilan praktis yang dapat menjadi modal utama saat kembali ke tengah masyarakat. Oleh karena itu, setiap warga binaan diharapkan dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pembinaan dengan serius, disiplin, dan penuh tanggung jawab.


“Program kemandirian ini bukan sekadar rutinitas, tetapi merupakan kesempatan berharga bagi WBP untuk belajar dan mengembangkan diri. Kami ingin seluruh warga binaan menyadari bahwa masa pembinaan ini adalah waktu terbaik untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Kasi Binadik.


Lebih lanjut, ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan pembinaan tidak hanya ditentukan oleh program yang tersedia, tetapi juga oleh kesungguhan dan komitmen dari masing-masing individu WBP. Dengan adanya kemauan yang kuat, setiap warga binaan memiliki peluang yang sama untuk memperbaiki masa depan mereka.


Sementara itu, jajaran petugas Giatja turut memberikan penekanan terkait pentingnya kepatuhan terhadap tata tertib yang berlaku di dalam lingkungan lapas. Disiplin dinilai sebagai fondasi utama dalam menciptakan suasana yang aman, tertib, dan kondusif, sehingga seluruh program pembinaan dapat berjalan dengan optimal.


Petugas menegaskan bahwa setiap pelanggaran terhadap aturan akan berdampak pada proses pembinaan yang sedang dijalani oleh WBP. Oleh karena itu, mereka mengimbau agar seluruh warga binaan dapat menjaga sikap, mematuhi aturan, serta menghormati sesama penghuni maupun petugas lapas.


“Kami berharap seluruh WBP dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik, menjaga ketertiban, serta tidak melakukan pelanggaran. Dengan begitu, lingkungan lapas akan tetap kondusif dan program pembinaan dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan,” tambahnya.


Kegiatan pengarahan ini juga menjadi sarana komunikasi antara petugas dan WBP, sehingga berbagai kendala yang dihadapi selama mengikuti program pembinaan dapat disampaikan secara langsung. Hal ini penting untuk memastikan bahwa setiap program yang dijalankan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi warga binaan.


Selain itu, pembinaan kemandirian yang dilaksanakan di Lapas Narkotika Rumbai mencakup berbagai bidang keterampilan, seperti kerajinan tangan, pertanian, hingga kegiatan produktif lainnya yang disesuaikan dengan potensi dan minat WBP. Program-program tersebut dirancang agar warga binaan tidak hanya memiliki keahlian teknis, tetapi juga mampu membangun etos kerja yang baik.


Dengan adanya pembinaan yang terarah dan berkelanjutan, diharapkan WBP dapat mengalami perubahan positif baik dari segi keterampilan maupun perilaku. Transformasi ini menjadi tujuan utama dari sistem pemasyarakatan, yaitu mengembalikan warga binaan menjadi individu yang lebih baik dan siap berkontribusi di masyarakat.


Lapas Narkotika Kelas IIB Rumbai sendiri terus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pembinaan melalui berbagai inovasi dan pendekatan yang humanis. Dukungan dari seluruh jajaran petugas menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan pembinaan yang efektif dan berkelanjutan.


Melalui kegiatan pengarahan ini, diharapkan seluruh WBP semakin termotivasi untuk mengikuti program pembinaan dengan sungguh-sungguh. Tidak hanya sekadar menjalani masa pidana, tetapi juga menjadikannya sebagai proses pembelajaran yang berharga untuk membangun masa depan yang lebih baik.


Pada akhirnya, keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari kemampuan kerja yang dimiliki oleh WBP, tetapi juga dari perubahan sikap dan kesadaran dalam menaati aturan. 


Dengan kombinasi antara keterampilan dan kedisiplinan, diharapkan setiap warga binaan dapat kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan mampu memberikan kontribusi positif.


(*06/raisya)