Sumatra Utara, Peringatan Hari Ibu 2025 dimaknai lebih dari sekadar seremoni. Konsorsium PERMAMPU menjadikannya sebagai ruang refleksi dan solidaritas dengan mengangkat tema Kisah Perempuan Korban Bencana di Sumatera.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, yang membagikan pengalaman nyata perempuan dan komunitas terdampak bencana di wilayah masing-masing.
Direktur Persada Sumatra Utara, Sartika, dalam pemaparannya secara daring melalui Zoom yang diikuti perwakilan dari 10 provinsi, mengungkap kondisi memprihatinkan pascabencana banjir bandang dan longsor di sejumlah wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah,Sibolga, dan Tapanuli Selatan.
Ia menyampaikan bahwa bencana tersebut menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur, terutama akses jalan.
Tercatat sekitar 40 titik longsor, dengan 13 di antaranya tergolong longsor berat, yang mengakibatkan terputusnya jalur utama dan melumpuhkan mobilitas warga serta distribusi bantuan.
“Jalan utama terputus total akibat longsor. Kondisi ini sangat menyulitkan evakuasi dan penyaluran bantuan kepada warga terdampak,” ujar Sartika, Senin (22/12/2025).
Berdasarkan hasil pendataan, sebanyak 37 unit rumah terdampak langsung banjir dan longsor. Sementara itu, jumlah anggota jaringan PERMAMPU yang terdampak mencapai 770 orang, terdiri dari 84 lansia, 15 balita, 90 anak-anak, dan 591 orang dewasa.
Bencana ini juga menelan korban jiwa, yakni tiga perempuan dewasa, tiga anak, serta tiga suami dari anggota komunitas.
Selain kerugian fisik, Sartika menekankan dampak psikososial yang masih dirasakan para korban. Banyak ibu dan keluarga belum berani kembali ke rumah akibat trauma dan ketakutan akan bencana susulan.
Kepadatan pengungsian, minimnya aktivitas, serta tangisan anak-anak memperberat tekanan psikologis yang dialami.
Ia juga mengisahkan perjuangan sejumlah korban yang harus bertahan hidup semalaman di hutan saat bencana terjadi.
Tanpa bekal makanan, mereka hanya mengandalkan air hujan serta kulit dan batang tanaman untuk bertahan. Hingga beberapa pekan setelah kejadian, luka akibat duri dan bebatuan masih tampak di tubuh para penyintas.
Dampak ekonomi turut memperparah kondisi keluarga korban. Banyak dari mereka terpaksa bekerja serabutan dengan upah minim.
Trauma yang dialami pun masih membekas, bahkan suara kendaraan kerap memicu kepanikan karena mengingatkan pada suara banjir dan longsor.
Dalam forum tersebut juga terungkap tragedi satu keluarga yang meninggal dunia, termasuk seorang anak penyandang disabilitas mental.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan dan pemahaman mitigasi bencana, khususnya bagi kelompok rentan.
Sebagai bentuk respons, jaringan PERMAMPU telah melakukan berbagai upaya penanganan, mulai dari pendataan korban, distribusi bantuan pangan dan kebutuhan khusus perempuan, layanan kesehatan gratis bagi 233 orang, hingga kegiatan trauma healing untuk 85 anak melalui metode menggambar.
Pendampingan psikososial dan konseling kelompok juga terus dilakukan.
Penggalangan donasi dilakukan melalui jejaring internal, mitra lembaga, dan masyarakat umum. Hingga 19 Desember 2025, dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp59.560.000 dan telah disalurkan untuk membantu sekitar 700 korban terdampak.
Melalui peringatan Hari Ibu ini, Konsorsium PERMAMPU menegaskan komitmennya untuk terus mengawal isu kemanusiaan, keadilan, serta pemulihan korban bencana, khususnya perempuan dan kelompok rentan, agar tidak terpinggirkan dalam setiap proses penanganan dan pemulihan pascabencana.

