Hari Pergerakan Perempuan Indonesia, PPSW Riau dan PERMAMPU Suarakan Kerentanan Perempuan Korban Bencana Sumatera

Palukeadilannews.com

Pekanbaru, 22 Desember 2025 Peringatan Hari Pergerakan Perempuan Indonesia (Hari Ibu) menjadi momentum penting bagi Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) Riau dan Konsorsium PERMAMPU untuk menyuarakan kondisi perempuan korban bencana alam di wilayah Sumatera.


Kegiatan yang digelar secara hybrid ini diikuti oleh perwakilan perempuan dari 10 provinsi, dengan peserta di Riau hadir langsung di Hotel Fave Pekanbaru, sementara peserta lainnya mengikuti secara daring melalui Zoom.


Dalam diskusi yang berlangsung, terungkap bahwa rangkaian bencana banjir bandang, longsor, dan galodo di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah berdampak pada 52 kabupaten/kota, menelan 1.059 korban jiwa, menyebabkan 192 orang hilang, serta merusak lebih dari 147 ribu rumah. Namun, angka tersebut dinilai belum sepenuhnya menggambarkan situasi di lapangan.


Ketiadaan data korban bencana yang terpilah berdasarkan jenis kelamin, usia, kondisi kesehatan, disabilitas, serta status kehamilan dan menyusui dinilai memperparah kerentanan perempuan. 


Tanpa data tersebut, kebutuhan spesifik perempuan kerap terabaikan dalam proses tanggap darurat maupun pemulihan pascabencana.


Melalui peringatan ini, Konsorsium PERMAMPU menghadirkan kisah nyata perempuan penyintas bencana, yang menceritakan keterbatasan air bersih di pengungsian, sulitnya akses kebutuhan dasar perempuan, hingga ancaman kekerasan dan pelecehan seksual di lokasi pengungsian.


Direktur PPSW Riau, Herlina Shanti, S.Pi, menyampaikan bahwa PPSW Riau merupakan bagian dari jaringan organisasi perempuan se-Sumatera yang tergabung dalam Konsorsium PERMAMPU. 


Sejumlah anggota konsorsium seperti Flowe Aceh, PESADA Sumatera Utara, dan LP2M Sumatera Barat telah melakukan pendataan kebutuhan mendesak perempuan korban bencana.


“Penggalangan donasi yang kami lakukan difokuskan pada kebutuhan spesifik perempuan, seperti pembalut, pakaian dalam, popok bayi, penyaring air bersih, dan kebutuhan kesehatan reproduksi lainnya,” ujar Herlina.


Ia menegaskan bahwa perempuan menjadi kelompok paling rentan saat dan pascabencana karena kebutuhan biologis yang tidak dapat ditunda. 


“Menstruasi, melahirkan, dan menyusui tetap berlangsung meski bencana terjadi. Tanpa dukungan yang memadai, perempuan menghadapi risiko kesehatan yang serius,” jelasnya.


Selain isu kesehatan, Herlina juga menyoroti pentingnya pengelolaan pengungsian yang aman dan berperspektif gender, termasuk penyediaan toilet terpisah bagi laki-laki dan perempuan untuk mencegah kekerasan seksual.


Dampak bencana juga dirasakan pada aspek ekonomi. Di wilayah pedesaan, lumpuhnya sektor pertanian dan perikanan membuat perempuan kehilangan sumber penghidupan keluarga. 


Oleh karena itu, penguatan ekonomi perempuan berbasis kelompok dinilai krusial dalam proses pemulihan.


Dalam momentum Hari Pergerakan Perempuan Indonesia, Herlina mengingatkan kembali semangat Kongres Perempuan Indonesia 1928 sebagai tonggak sejarah gerakan perempuan di Indonesia.


“Solidaritas perempuan harus terus dirawat. Memasuki 2026, kami mengajak perempuan Indonesia untuk bergerak bersama, saling menguatkan, dan memastikan tidak ada perempuan yang ditinggalkan dalam situasi bencana,” tutupnya.


Di akhir kegiatan, PPSW Riau dan Konsorsium PERMAMPU kembali mendorong pemerintah untuk menyediakan data korban bencana yang terpilah agar kebijakan dan bantuan yang diberikan benar-benar menjawab kebutuhan penyintas, khususnya perempuan.

 

Tags